Sunday, October 3, 2010

Berwisata Sejarah


KEPULAUAN SERIBU TEMPO DOELOE

Pulau Onrust berada di Teluk Jakarta dalam gugusan Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu. Untuk mencapai pulau Onrust ini bisa ditempuh dari Muara Kamal dan Muara Angke dengan perahu nelayan selama 30 menit dengan jarak 14 km. Pulau Onrust dikeliling oleh Pulau Kelor, Pulau Cipir dan Pulau Bidadari. Penduduk sekitar pulau menyebut pulau ini sebagai pulau kapal.
Perjalanan pertama di pulau ini dimulai tahun 1613 dengan dibangunnya sebuah galangan kapal. Tahun 1656 dibangun sebuah benteng belah ketupat. Perjalanan pulau dimulai kembali pada tahun 1803 akan tetapi kembali dihancurkan oleh Inggris pada tahun 1806 dan pulau ini menjadi milik Inggris yang kemudian ditinggalkan pada tahun 1816. Kemudian Pulau Onrust sempat hingga Baron Van Der Capellen membangun kembali pulau ini. Namun pada tahun 1883 terjadi letusan gunung Krakatau yang menghancurkan pulau ini untuk ketiga kalinya dan menjadikan pulau ini tidak bernyawa hingga awal abad 20.
Kemudian pada tahun 1905 pulau ini kembali hidup sejak didirikannya stasiun cuaca. Pada tahun 1911 pulau ini semakin ramai dengan berdirinya sanatorium TBC dan dijadikannya Pulau Onrust sebagai karantina haji. Namun pada tahun 1933 hingga 1940, Pulau Onrust dijadikan sebagai tempat tawanan para pemberontak yang terlibat dalam "Peristiwa Kapal Tujuh" (Zeven Provincien). Pada masa pendudukan Jepang, Pulau Onrust tidak dianggap penting oleh Jepang sehingga hanya dijadikan penjara kecil bagi pejahat kriminal kelas berat. Pulau ini juga menjadi tempat bagi eksekusi mati terhadap Pemimpin gerakan DI/TII Kartosuwiryo.
Pada masa Indonesia merdeka, pulau ini dimanfaatkan sebagai Rumah Sakit Karantina bagi penderita penyakit menular hingga awal tahun1960-an. Kemudian antara tahun 1960-1965 Pulau Onrust dimanfaatkan sebagai tempat penampungan bagi para gelandangan dan pengemis. Selain itu juga pulau ini dimanfaatkan untuk kegiatan latihan militer. Setelah itu pulau ini terbengkalai hingga awal tahun 1970 dan berkakibat banyak penduduk Jakarta yang menganggap pulau ini tidak bertuan hingga terjadinya pembongkaran dan pengambilan material bangunan secara besar-besaran pada tahun 1968 sehingga sebagian besar bangunan bersejarah rata dengan tanah. Untuk menyelamatkan pulau ini, Gubernur DKI Jakarta kemudian mengeluarkan surat keputusan yang menyatakan bahwa Pulau Onrust sebagai pulau bersejarah yang dilindungi.Di pojok pulau ini masih dijumpai kuburan Belanda dimana jasad Maria dikuburkan. Maria sangat dikenal karena ia satu-satunya penghuni kuburan ini yang masih bisa dilacak keberadaannya melalui prasasti yang ditinggalkan. Konon, gadis Belanda yang meninggal muda di Hindia Belanda masih menampakkan sosoknya di malam hari. Dalam nisan Maria terdapat tulisan dengan bahasa Belanda yang apabila diterjemahkan sebagai berikut:
Maria van de Velde
mayatnya dikuburkan
walaupun ia pantas
hidup bertahun-tahun lamanya
seandainya Tuhan
berkenan demikian
namun rupanya, Jehova
menghalangi itu dengan kematian

Maria hilang, Maria tiada lagibukan! saya tarik kembali kata itukarena diucapkan tanpa pikir panjang
maka semoga kelancangaanku
langsung didenda
kini Maria baru sungguh-sungguh hidup
sejak hidup dekat Tuhannya
lahir di Amsterdam
tanggal 29 Desember 1963
meninggal tanggal 19 November
1721 di Onrust

Selain Pulau Onrust, terdapat pulau lain dalam gugusan kepulauan tersebut yaitu Pulau Cipir/Khayangan, Pulau Bidadari, dan Pulau Kelor. Pulau Kuyper adalah sebutan lain untuk Pulau Khayangan atau Pulau Cipir yang memiliki sejarah yang sama dengan Pulau Onrust.

Sinopsis dari Klub Tempo Doeloe.
------------------------------------------------------------------------------------------------------


Kenapa saya tiba-tiba menulis tentang Pulau Onrust?? Karna Sabtu kemarin, saya dan Oye (teman saya) baru saja melakukan wisata sejarah ke Pulau Onrust, Pulau Kelor, dan Pulau Cipir/Khayangan. Seperti sudah dijelaskan di atas bahwa ketiga pulau tersebut masuk dalam Kepulauan Seribu. Kegiatan berwisata sejarah itu dilaksanakan oleh Klub Tempo Doeloe. Hanya dengan membayar 95.000 rupiah, saya sudah mendapatkan t-shirt, biaya kapal PP, makan siang 1x, air mineral, dll. Pastinya worth it lah. Cukup banyak yang ikut trip ini, ada sekitar 100 orang.
Perjalanan dimulai dari rumah dan dengan menggunakan bus transjakarta saya menuju ke lokasi berkumpul, yaitu di tempat pelelang ikan Muara Kamal. Saya naik bus transjakarta dari halte Jati Padang (Ragunan), transit di halte Duku Atas, lanjut ke halte Harmoni, dan naik bus transjakarta jalur Harmoni-Kalideres. Saya pun turun di halte Rawabuaya. Kemudian menunggu teman saya, Oye. Setelah Oye datang, perjalanan dilanjutkan dengan naik angkot carry plat hitam yang mengantarkan kami ke Muara Kamal. Dari Rawabuaya ke Muara Kamal dengan angkot itu bayar 5000 rupiah karna jarak yang ditempuh cukup jauh.
Perjalanan cukup melelahkan memang, tapi anggap saja ini uji coba untuk keliling Indonesia. Masa keliling Jakarta aja ga kuat sih. Hahaha..Setelah sampai bertemu dengan Klub Tempo Doeloe, melakukan registrasi ulang, pembagian kaos-pin-sinopsis-air mineral, dan penentuan kapal. Lalu saya dan Oye naik ke kapal dan setalah lengkap, kita berangkat. Pulau pertama yang dituju adalah Pulau Kelor. Kalo kata orang-orang sih, pulau ini sesuai dengan pepatah "dunia tak selebar daun kelor". Daun kelor yang kecil dan pulau ini memang kecil. Di pulau ini terdapat menara pengawas peninggalan Belanda. Mau tahu sejarah Pulau Kelor? Silakan dibaca di sini.Pulau selanjutnya yang kita tuju adalah Pulau Onrust. Sejarah pulau ini sudah dijelaskan sebelumnya, jadi saya tak perlu menjelaskan lagi ya.

Lalu pelayaran selanjutnya yaitu ke Pulau Cipir/Khayangan. Sejarah pulau ini hampir sama seperti Pulau Onrust. Peninggalan Pulau Cipir adalah bangunan tua bekas rumah sakit untuk rombongan yang ingin menunaikan ibadah haji, pada jaman penjajahan Belanda. Selain itu, terdapat juga barak-barak untuk tempat beristirahat rombongan jamaah haji. Juga terdapat rumah untuk para dokter yang bertugas di pulau ini. Di Pulau Cipir juga terdapat meriam peninggalan bangsa Belanda. Pulau ini dahulu juga merupakan salah satu pulau yang bertugas untuk mencegah serangan dari pihak musuh, khususnya Inggris.Pelayaran wisata sejarah ini pun selesai di Pulau Cipir, kemudian kita kembali berlayar ke Muara Kamal. Untungnya kita sampai daratan sebelum hujan deras turun. Entah apa yang terjadi, seandainya hujan deras turun pas berlayar pulang. Saya tak bisa membayangkan. Hahaha..
Perjalanan wisata sejarah ini merupakan pengalaman yang baru dan sangat menarik buat saya. Tapi satu hal yang sangat-sangat disayangkan, PULAU-PULAU ITU KOTOR SEMUA, BANYAK SAMPAH, SANGAT TAK TERAWAT, PADAHAL PULAU-PULAU ITU CAGAR BUDAYA YANG SEHARUSNYA DILESTARIKAN DAN DIRAWAT!!!

4 comments:

sheilaisme said...

huaaa ngiri banget pengen ikut Gres. T_T
next trip kita sekalian clean up yaa. :)

grace my sitorus said...

gimana kalo lo bikin acara clean up bareng telapak?
;)

eLFiRa aRisanti said...

seru foto fotonya

grace my sitorus said...

tengkyu :D